Dosa, injak hati dan jiwaku
Dosa, tusuk benak dan akalku
Aku hitam terlahir, nafsu belaka
Aku enggan berpikir, penuh kuasa
Aku hina terlahir, menantang dosa
Aku adalah amatir, tatap derita
Sejuk sebuah dosa
Belai nafsu asa
Sejuk ribuan dosa
Dosa, lilit diri dengan murka
Dosa, himpit angan dan logika
Aku panas sang api, bakar dahaga
Aku cahaya pelangi, hampa pahala
Aku lelah arungi, kaum neraka
Aku terus lukai, iman dan dosa
Tak bisa menahan hasrat
Tak bisa ludahi dosa
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Sederhana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Sederhana. Tampilkan semua postingan
Perasaan Cinta,,,
Aku tak bisa disalahkan dalam prasaan cinta yang aku miliki terhadap seseorang, tak bisa disalahkan dalam memendam cinta yang pada umumnya ternyatakan, dan aku tak bisa kau cegah saat berlebihanku mengartikan cinta ketika ia telah menuai jalanku karena keinginanku yang sangat untuk berbagi..
Akhir_akhir ini aku lebih banyak menarik nafas panjang, membiarkanmu mengikis hati ini keping demi keping tanpa kau ketahui adanya,Letih..menyakitkan!
Disini terlahir cinta yang dapat kau sentuh setiap saat kau membutuhkannya, yang tak dapat terumbar oleh kata, dalam penantian yang hakiki, inilah cinta yang akan selalu kalah dalam setiap tampilannya.
Kau yang selalu aku inginkan dibalik nafasku yang masih tersisa, dan perasaanku yang terbata. Jika waktu memisahkanku darimu, itu hanya tuk sementara, sebab nirwana yang kuharap menjadi akhir tempat terindah untukmu dan untukku, kan terungkap isi hati, beribu bidadari kan kuusir dari sana, tuk menghadirkan satu senyum manis diwajahmu, dan kata abadipun tak cukup untuk melukiskan kebersamaanku denganmu..
Kucoba merelakanmu, menemukan cinta yang lain saat ini, membiarkanmu tersentuh cinta sang pengembara, mencari kehidupanku yang masih teramat gaib, tuk menghadirkan sebuah keberhasilan, yang pada akhirnya mampu bahagiakan seberkas harapan dimatamu. Itu benar, dan itulah adanya..! Cinta yang tak kucukupkan dengan kata..
Aku takkan datang padamu jika bukan karena cinta dan rinduku yang memaksaku untuk itu, walau kadang ia harus tersakiti olehmu, setiap kali engkau membencinya maka setiap kali itu pula aku akan mempersembahkannya padamu..
Akhir_akhir ini aku lebih banyak menarik nafas panjang, membiarkanmu mengikis hati ini keping demi keping tanpa kau ketahui adanya,Letih..menyakitkan!
Disini terlahir cinta yang dapat kau sentuh setiap saat kau membutuhkannya, yang tak dapat terumbar oleh kata, dalam penantian yang hakiki, inilah cinta yang akan selalu kalah dalam setiap tampilannya.
Kau yang selalu aku inginkan dibalik nafasku yang masih tersisa, dan perasaanku yang terbata. Jika waktu memisahkanku darimu, itu hanya tuk sementara, sebab nirwana yang kuharap menjadi akhir tempat terindah untukmu dan untukku, kan terungkap isi hati, beribu bidadari kan kuusir dari sana, tuk menghadirkan satu senyum manis diwajahmu, dan kata abadipun tak cukup untuk melukiskan kebersamaanku denganmu..
Kucoba merelakanmu, menemukan cinta yang lain saat ini, membiarkanmu tersentuh cinta sang pengembara, mencari kehidupanku yang masih teramat gaib, tuk menghadirkan sebuah keberhasilan, yang pada akhirnya mampu bahagiakan seberkas harapan dimatamu. Itu benar, dan itulah adanya..! Cinta yang tak kucukupkan dengan kata..
Aku takkan datang padamu jika bukan karena cinta dan rinduku yang memaksaku untuk itu, walau kadang ia harus tersakiti olehmu, setiap kali engkau membencinya maka setiap kali itu pula aku akan mempersembahkannya padamu..
Bekas Itu,,,
Teramat banyak sakit dendam dan pilu yang tersmbunyi di balik senyum tawa dan canda..
Teramat banyak bayang ketakutan terekam dalam imaji akan masa lalu yang suram..
Ada kerapuhan yang tak tampak dibalik sosok teguh dan angkuh..
Ada emosi dan ego yang menggumpal dibalik kesabaran yang selalu tampak berusaha sabar...
Ada hati yang akan selalu tersakiti teruji oleh smbilu yang tak tau darimana arah datangnya..
Tapi yang psti akan selalu ada perubahan ke arah yang baik,
Akan selalu tumbuh pucuk hijau di tanah yang kering dan gersang..
Tanda perubahan hidup akan selalu ada seiring terbitnya sang mentari
Akan ada kaki yang selalu melangkah mencari pemberhentiannya yang bijak!..
Teramat banyak bayang ketakutan terekam dalam imaji akan masa lalu yang suram..
Ada kerapuhan yang tak tampak dibalik sosok teguh dan angkuh..
Ada emosi dan ego yang menggumpal dibalik kesabaran yang selalu tampak berusaha sabar...
Ada hati yang akan selalu tersakiti teruji oleh smbilu yang tak tau darimana arah datangnya..
Tapi yang psti akan selalu ada perubahan ke arah yang baik,
Akan selalu tumbuh pucuk hijau di tanah yang kering dan gersang..
Tanda perubahan hidup akan selalu ada seiring terbitnya sang mentari
Akan ada kaki yang selalu melangkah mencari pemberhentiannya yang bijak!..
by: omo
Tak Bermakna,,,
Dan keputus'asaan menyakiti dirimu sendiri
Aku memacu seluruh waktu berburu jantungku
Dan smua kujalani dan harap ternyata membuat kecewa
Dibalik kegelapan akal mematikan rasa jiwa raga..
Menangis terjepit kebodohan memahami dan tinggalkan mimpi
Lantunkn lagu pedih penutup hati
Dan smua yg kuberikan, kuserahkan, kuucapkan takkan kuminta lagi..
Sebening kehampaan doa yg menghangatkan luka dan dosa ini..
Aku memacu seluruh waktu berburu jantungku
Dan smua kujalani dan harap ternyata membuat kecewa
Dibalik kegelapan akal mematikan rasa jiwa raga..
Menangis terjepit kebodohan memahami dan tinggalkan mimpi
Lantunkn lagu pedih penutup hati
Dan smua yg kuberikan, kuserahkan, kuucapkan takkan kuminta lagi..
Sebening kehampaan doa yg menghangatkan luka dan dosa ini..
Do'a
Khusuk dalam hening
Mencari titik temu
Bersujud menghadap pasrah
Di ketakberdayaanku
Perlahan kau hadir
Menggeletarkan sukmaku
Yang menangis hantar keluh
Dahagakan jawaban
Tuhan, Sang Kuasa
Sudi basuhi jiwa
Yang letih lesu dan berbeban
Hingga kedamaian
Menjadi penopangku
Setelah jatuh tersungkur dan hilang
Secercah cahaya datang dihadapan
Agar membimbingku
(Ku tak kuasa meminta apa)
(Kaulah Maha Tahu segala)
(Kebutuhan, hidup, kedamaian, kekal abadi)
Mencari titik temu
Bersujud menghadap pasrah
Di ketakberdayaanku
Perlahan kau hadir
Menggeletarkan sukmaku
Yang menangis hantar keluh
Dahagakan jawaban
Tuhan, Sang Kuasa
Sudi basuhi jiwa
Yang letih lesu dan berbeban
Hingga kedamaian
Menjadi penopangku
Setelah jatuh tersungkur dan hilang
Secercah cahaya datang dihadapan
Agar membimbingku
(Ku tak kuasa meminta apa)
(Kaulah Maha Tahu segala)
(Kebutuhan, hidup, kedamaian, kekal abadi)
Jalan Panjang Berliku
Jalan panjang yang berliku
Jalan lusuh dan berbatu
Namun kuharus mampu menempuh
Bersama beban di batinku
Kudatang berlumur debu
Kupergi bersama bayu
Diantara gelisah
Kucoba untuk tetap kukuh
Tiadakah tempat kuberteduh
Dikala luka membiru
Segenggam harapan dalam jiwa
Hilang punah tiada kesan ..
Dikegelapan ..
Jalan lusuh dan berbatu
Namun kuharus mampu menempuh
Bersama beban di batinku
Kudatang berlumur debu
Kupergi bersama bayu
Diantara gelisah
Kucoba untuk tetap kukuh
Tiadakah tempat kuberteduh
Dikala luka membiru
Segenggam harapan dalam jiwa
Hilang punah tiada kesan ..
Dikegelapan ..
Kudatangkan TubuhMu
Langkahku semakin karam
Diantara basah humus
Arungi belukar paya
Belantara surutkan hatiku
Hari demi hariku sibakkan jalan
Kuterjang kegelapan
Turuti berkas sinar temukan wajahMu
Terjerat sudah tubuhku
Diantara duri rotan turuni jeram berkabut
Kerinduan merampas pikiranku
Aku harus jalani paruh lakon ini
Ditengah bias angan dan kenyataan hidup
Kugenggam parangku
Di sini di belantara
Di lingkar garis bumi
Kudatangkan tubuhmu
Lewat bara api unggun,,,
Diantara basah humus
Arungi belukar paya
Belantara surutkan hatiku
Hari demi hariku sibakkan jalan
Kuterjang kegelapan
Turuti berkas sinar temukan wajahMu
Terjerat sudah tubuhku
Diantara duri rotan turuni jeram berkabut
Kerinduan merampas pikiranku
Aku harus jalani paruh lakon ini
Ditengah bias angan dan kenyataan hidup
Kugenggam parangku
Di sini di belantara
Di lingkar garis bumi
Kudatangkan tubuhmu
Lewat bara api unggun,,,
Katakan Kita Rasa
Sisakan senyum sisihkan tawa
Ketika tangis terdengar cakar telinga kita
Hangatkan surya didarah ini
Relakan untuk mereka agar air mata pergi
Katakan cinta rasakan duka
Katakan pasti kita rasakan segala penderitaan
Satukan kata dan rasa bersama singkirkan derita
Biarkan langkah berarti disekejap hidup ini
Ketika tangis terdengar cakar telinga kita
Hangatkan surya didarah ini
Relakan untuk mereka agar air mata pergi
Katakan cinta rasakan duka
Katakan pasti kita rasakan segala penderitaan
Satukan kata dan rasa bersama singkirkan derita
Biarkan langkah berarti disekejap hidup ini
Masa Pancaroba
Ada luka di urat darahmu
Ada lahar di denyut nadimu
Dilangkahmu beling berserakan
Dijalan nyawa tak bertuan
Rasa bergolak menghantam batasan yang usang
Kau meradang di cakrawala
Kau derunya pancaroba syairnya kenyataan
Nafasnya kehidupan bias keadaan
Kau derunya pancaroba kau hidup di jiwaku,
Kau jiwa di hidupku bagian duniaku
Masa penuh tanda tanya dan kecewa bagai detik bom waktu,
Jeritmu kudengar di celah pencakar langit
"Untuk siapakah nikmat merdeka"
Hai kesini, mari satukan segala rasa
Agar sekokoh bukit barisan,,,
Ada lahar di denyut nadimu
Dilangkahmu beling berserakan
Dijalan nyawa tak bertuan
Rasa bergolak menghantam batasan yang usang
Kau meradang di cakrawala
Kau derunya pancaroba syairnya kenyataan
Nafasnya kehidupan bias keadaan
Kau derunya pancaroba kau hidup di jiwaku,
Kau jiwa di hidupku bagian duniaku
Masa penuh tanda tanya dan kecewa bagai detik bom waktu,
Jeritmu kudengar di celah pencakar langit
"Untuk siapakah nikmat merdeka"
Hai kesini, mari satukan segala rasa
Agar sekokoh bukit barisan,,,
Titik!!!,,,
Semua t’lah hilang
Dalam sesaat seakan-akan hadirkan mimpi yang kelam
Yang kelam……yang kelam…yang kelam………
Engkau terjerat, sesatnya nikmat
T’lah menjalar hentikan detak jantungmu…
T’lah seribu pesan terucapkan
Namun kau berpaling, tetap mencari mati…hina
Semua kau abaikan
Hari yang terakhir bagimu “berhenti, terlanjur menjadi hembusan nafasmu…
Dan kau pulang entah kemana…
Benci aku mengulangi, hari yang sama terjadi
Harus kehilangan kawan….
Mustahil semua kembali, hari yang lebih berarti
Sirna sudah semua harapan….
berlari, mencari, waktu untuk kembali
Kubenci alami,…semuaaaaaaaaa!!! Titik!!!,,,
Dalam sesaat seakan-akan hadirkan mimpi yang kelam
Yang kelam……yang kelam…yang kelam………
Engkau terjerat, sesatnya nikmat
T’lah menjalar hentikan detak jantungmu…
T’lah seribu pesan terucapkan
Namun kau berpaling, tetap mencari mati…hina
Semua kau abaikan
Hari yang terakhir bagimu “berhenti, terlanjur menjadi hembusan nafasmu…
Dan kau pulang entah kemana…
Benci aku mengulangi, hari yang sama terjadi
Harus kehilangan kawan….
Mustahil semua kembali, hari yang lebih berarti
Sirna sudah semua harapan….
berlari, mencari, waktu untuk kembali
Kubenci alami,…semuaaaaaaaaa!!! Titik!!!,,,
Sekilas Tentang Kau Ibu,,,
Tanpa engkau sedikitpun tiada artinya aku, bagiku kau api yg berikan hangat begitu kuat pada beku nadi,
Tiada dua engkau hadirkan cinta tak berahir tak kan pernah mampu kulukis putihmu, maafkanlah aku Ibu!!!
Bagai bening mata air memancar tak henti mungkin masihlah teramat kurang
Bagai sinar matahari yg tak kenal bosan berikan terangnya padaku kaulah segalanya
Hanya ini yang sanggup kutulis untukmu Ibu jangan tertawakan simpan dalam hatimu yang sejuk rimbun Akan doa
Kau berikan semuanya yg bisa kau beri tanpa setitikpun harap balas
Kau kisahkan segalanya tanpa ada duka walaupun air matamu tumpah tenggelamkan dunia
Bagai sinar matahari yg tak kenal bosan berikan terangnya pada jiwa
Kau berikan semuanya yg bisa kau beri tanpa setitikpun harap balas agungnya engkau
Bagai luas laut biru batinmu untukku selalu ada tempat tuk resahku
Bagai bening mata air memancar tak henti sirami jiwaku waktu kecewa datang menggoda...
Fantasi Semu
Dinding tradisi tak mampu lagi tuk menahan fantasi
Kemilau kristal sang kemapanan ternyata tetap tak berarti
Dia merasa sudah waktunya tuk tahu segalanya
Keramaian isi dunia slalu membayanginya
Kini perubahan terjadi acuhkan semua logika butakan hati
Luapan jiwa menggeliat meruntuhkan tirai yang memisah
Di sudut remang dia terkapar, terlena dalam hampa
Hal yang tabu bagai biasa, dilihat dan dirasa
Dia semakin berubah tiada peduli bahaya
Dengan meronta luapan jiwa menggeliat meruntuhkan tirai yg memisah
Larilah ...lari Ikuti naluri... Larilah... lari mencari ilusi
Haruskah kau selamanya sesat di rimba sang kehidupan...
Kemilau kristal sang kemapanan ternyata tetap tak berarti
Dia merasa sudah waktunya tuk tahu segalanya
Keramaian isi dunia slalu membayanginya
Kini perubahan terjadi acuhkan semua logika butakan hati
Luapan jiwa menggeliat meruntuhkan tirai yang memisah
Di sudut remang dia terkapar, terlena dalam hampa
Hal yang tabu bagai biasa, dilihat dan dirasa
Dia semakin berubah tiada peduli bahaya
Dengan meronta luapan jiwa menggeliat meruntuhkan tirai yg memisah
Larilah ...lari Ikuti naluri... Larilah... lari mencari ilusi
Haruskah kau selamanya sesat di rimba sang kehidupan...
Debu Sahabatku,,,
Kemarau yang panjang
Seperti tak berakhir
Mata hati terluka
Seakan melangkah semu
Hilang terbenam jauh
Bayangku makin redup
Pedih kumenanti
Tapi tak ada
Sedih akankah berakhir
Kemana saja arah
Aku tak peduli
Terpasung tak berujung
Hanya kau yang peduli...dan pahami
Sejalan dengan pikirku...kau debu sahabatku!!!
Seperti tak berakhir
Mata hati terluka
Seakan melangkah semu
Hilang terbenam jauh
Bayangku makin redup
Pedih kumenanti
Tapi tak ada
Sedih akankah berakhir
Kemana saja arah
Aku tak peduli
Terpasung tak berujung
Hanya kau yang peduli...dan pahami
Sejalan dengan pikirku...kau debu sahabatku!!!
Tatkala Letih Menunggu,,,
menunggu ada kalanya terasa mengasyikkan
banyak waktu kita miliki untuk berfikir
sendiri seringkali sangat kita perlukan
meneropong masa silam yang telah terlewat
mungkin ada apa yang kita cari
masih tersembunyi di lipatan waktu yang tertinggal
mungkin ada apa yang kita kejar
justru tak terjamah saat kita melintas
menunggu lebih terasa beban yang membosankan
banyak waktu kita terbuang tergilas cuaca
sendiri seringkali sangat menyakitkan
meneropong masa depan dari sisi yang gelap
mungkin ada apa yang kita takuti
justru t'lah menghadang di lembaran hari-hari nanti
mungkin ada apa yang kita benci
justru t'lah menerkam menembusi seluruh jiwa kita
mungkin ada apa yang kita takuti
justru t'lah menghadang di lembaran hari-hari nanti
mungkin ada apa yang kita benci
justru t'lah menerkam menembusi s'luruh jiwa kita
memang seharusnya kita tak membuang semangat masa silam
bermain dalam dada
setelah usai mengantar kita tertatih-tatih sampai di sini..
banyak waktu kita miliki untuk berfikir
sendiri seringkali sangat kita perlukan
meneropong masa silam yang telah terlewat
mungkin ada apa yang kita cari
masih tersembunyi di lipatan waktu yang tertinggal
mungkin ada apa yang kita kejar
justru tak terjamah saat kita melintas
menunggu lebih terasa beban yang membosankan
banyak waktu kita terbuang tergilas cuaca
sendiri seringkali sangat menyakitkan
meneropong masa depan dari sisi yang gelap
mungkin ada apa yang kita takuti
justru t'lah menghadang di lembaran hari-hari nanti
mungkin ada apa yang kita benci
justru t'lah menerkam menembusi seluruh jiwa kita
mungkin ada apa yang kita takuti
justru t'lah menghadang di lembaran hari-hari nanti
mungkin ada apa yang kita benci
justru t'lah menerkam menembusi s'luruh jiwa kita
memang seharusnya kita tak membuang semangat masa silam
bermain dalam dada
setelah usai mengantar kita tertatih-tatih sampai di sini..
Hujan …Menghina Untuk Terakhir Kalinya
Hujan….
Hanya merintih kecil kali ini
Seakan mengerti kali ini
Hanya manusia kecil tak berarti
Yang perlu dikasihani…
Meski hancur ia berdiri
Seakan mengutuk takdir
Yang ia bawa dengan benci
Yang ia bawa dengan sesal
Dentum siksa telah ia rasa
Menyakiti kepala hingga hilang semua
Tak ada yang mengerti
Setiap baris yang ia titi
Penuh kata pedih perih
Tertulis dengan sengaja
Berharap benci hilang terasa
Meski canda ia gumam
Dalam gelap ia kutuk kegelapan
Meski suka ia senandungkan
Dalam hati ia mencabik pilu
Hujan ini pun begitu
Begitu singkat….
Begitu menghina pedihnya
Berdenyut nadi di kepala
Membuatnya pergi dari semua
Tak ada yang menangisinya
Tak ada…..
Sendiri dalam buta
Ia menangis tuk terakhir kalinya
Begitu ringan….
Hilang semua beban…
Tak ia sesali keindahan
Hanya bermimpi….
Kali ini untuk selamanya
Selamanya….
Hanya merintih kecil kali ini
Seakan mengerti kali ini
Hanya manusia kecil tak berarti
Yang perlu dikasihani…
Meski hancur ia berdiri
Seakan mengutuk takdir
Yang ia bawa dengan benci
Yang ia bawa dengan sesal
Dentum siksa telah ia rasa
Menyakiti kepala hingga hilang semua
Tak ada yang mengerti
Setiap baris yang ia titi
Penuh kata pedih perih
Tertulis dengan sengaja
Berharap benci hilang terasa
Meski canda ia gumam
Dalam gelap ia kutuk kegelapan
Meski suka ia senandungkan
Dalam hati ia mencabik pilu
Hujan ini pun begitu
Begitu singkat….
Begitu menghina pedihnya
Berdenyut nadi di kepala
Membuatnya pergi dari semua
Tak ada yang menangisinya
Tak ada…..
Sendiri dalam buta
Ia menangis tuk terakhir kalinya
Begitu ringan….
Hilang semua beban…
Tak ia sesali keindahan
Hanya bermimpi….
Kali ini untuk selamanya
Selamanya….
Sajak Pohon Dan Ranting Kering
Oleh: Bangkit Sanjaya
Diam Membisu,,,
Kau hanya bisa terdiam dan membisu
Saat rasakan jiwamu terbelenggu
Tak sanggup tuk memutar waktu, yang berlalu
Yang telah hilangkan bahagia dihatimu
Kau coba luluhkan suasana
Kau coba untuk tertawa
Namun senantiasa
Menjadi khayal semata
Tangis bathinmu takkan pernah mampu mengulangi
Semua kesejukkan hati yang terperih
Kini kau genggam pedihnya pilu dan emosi
Dan kau hanya diam dan membisu tersimpan di hati
Aku coba untuk tak merasa
Hindari kejamnya dunia
Namun senantiasa
Menjadi khayal semata
Kau hanya diam membisu,,,
Saat rasakan jiwamu terbelenggu
Tak sanggup tuk memutar waktu, yang berlalu
Yang telah hilangkan bahagia dihatimu
Kau coba luluhkan suasana
Kau coba untuk tertawa
Namun senantiasa
Menjadi khayal semata
Tangis bathinmu takkan pernah mampu mengulangi
Semua kesejukkan hati yang terperih
Kini kau genggam pedihnya pilu dan emosi
Dan kau hanya diam dan membisu tersimpan di hati
Aku coba untuk tak merasa
Hindari kejamnya dunia
Namun senantiasa
Menjadi khayal semata
Kau hanya diam membisu,,,
Tak Sempat Terucap
maafkanlah aku yang telah menyadari
bahwa, aku tak dapat memperbaiki bentuk masa laluku
karena kesalahan langkahku,
tapi aku dapat memperbaiki ketepatan langkahku hari ini
untuk keindahan masa depanku..
bahwa, aku tak dapat memperbaiki bentuk masa laluku
karena kesalahan langkahku,
tapi aku dapat memperbaiki ketepatan langkahku hari ini
untuk keindahan masa depanku..
Langganan:
Komentar (Atom)


